MATA KULIAH :
KAWASAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
JUDUL :
LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN SISTEM
(Makalah kuliah Teknologi Pendidikan Univesitas Islam Assyafi'iyah Jakarta)
OLEH : RAHMAT GURET
PROGRAM STUDI : MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Sistem sebagaimana didefinsikan adalah
kumpulan atau sekelompok elemen bebas yang bekerjasama untuk
menyelesaikan tujuan tertentu. Definisi lain sistem adalah susunan yang saling
berhubungan dari elemen-elemen yang saling berinteraksi di desain untuk
menyelesaikan fungsi yang telah di tentukan sebelumnya. ( Dimitris Chorofas,
1965 ). Berdasarkan kaidah ini, pendekataan sistem dalam perencanaan, ada
elemen yang saling berhubungan, baik lantaraan proses maupun lantaran didisain
strukturnya, sehingga setiap fungsinya merupakan satu kesatuan dan bekerjasama
untuk menghasilkan suatu keluaran atau produk. Akibatnya seeorang perencana
harus memperhatikan variabel dan kendala kritis, serta akibat interaksi antar
berbagai variable dalam sistem. Dalam kaitan ini, Kaufman (1973:10) menegaskan
bahwa pendekatan system merupakan cara mengidentifikasi kebutuhan, menseleksi
masalah, menyusun identifikasi persyaratan solusi masalah, membat beberapa
alternative solusi, mengevaluasi hasil, merevisi persyaratan pada sebagaian
atau seluruh system terkait dengan keterbatasan memenuhi kebutuhan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi
rumusan masalah adalah :
1. Apa itu
pendekatan sistem terhadap pendidikan.
2.
Bagaimana sistem-sistem dalam
pendidikan.
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang diajuakan, maka
penulisan makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui sistem-sitem didalam pendidikan itu sendiri
2. Memahami kaitannya dengan keuntungan pengembangan sistem dalam pendidikan
BAB II LANDASAN TEORI
1.2 PENDEKATAN
SISTEM DAN SISTEM PENDIDIKAN
Pendekatan sistem merupakan suatu metode ilmiah, dimana
proses pencapaian hasil atau tujuan logis dari pemecahan
masalah dilakukan dengan cara efektif dan efisien. Menurut Reigeluth,
pendekatan sistem adalah transaksi dari suatu urutan logis dari operasi untuk
tujuan mengubah satu atau lebih faktor dalam suatu sistem. Penerapan pendekatan
sistem ini dapat membantu mencapai suatu efek sinergitis dimana
tindakan-tindakan berbagai bagian yang berbeda dari sistem tersebut bila
dipersatukan akan memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan terpisah bagian
demi bagian. Jadi, pendekatan sistem merupakan aplikasi pandangan sistem (system
view or system thinking) dalam upaya memahami sesuatu atau untuk
memecahkan suatu permasalahan secara lebih efektif dan efisien.
Pendekatan sistem dapat dihubungkan dengan analisis kondisi fisik
(misalnya: sistem tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis
biotis (misalnya: jaring-jaring ekologis, koordinasi tubuh manusia), dan dapat
dihubungkan dengan analisis gejala sosial (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala
pendidikan, pola nilai hidup). Analisis sistem sosial relatif lebih rumit
dibanding analisis sistem fisik dan sistem biotis, sistem sosial seperti sistem
pendidikan pada umumnya bersifat terbuka, yaitu suatu sistem yang mudah
dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar sistem (rentan terhadap pengaruh
luar). Sebagai contoh, sistem persekolah yang mudah dipengaruhi oleh
situasi/trend di masyarakat dan kebijakan pemerintah. Karakter sistem
pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekuensi penyelenggaraan
pendidikan sekolah yang lebih kritis dan kreatif dalam mencari alternatif
pengembangan secara berkesinambungan.
A. BIDANG TELAAH SISTEM PENDIDIKAN
1. Manajemen
Sistem Informasi Pendidikan
1)
Pada Pelajar
a)
Menyediakan informasi tingkat,
nilai, kesehatan, kehadiran dan faktor lainnya.
b)
Menyediakan informasi
pengalaman-pengalaman di luar sekolah yang memiliki efek yang besar pada proses
belajarnya, contohnya pendapatan dan pekerjaan orang tua siswa, karakteristik dari
rumahnya dan lingkungannya.
c)
Menyediakan informasi yang
membandingkan pencapaian siswa dengan siswa di sekolah lain.
d)
Menyediakan informasi kurikulum,
ekstrakurikuler, pendidikan tambahan dan program-program yang ada hubungannya
dengan masyarakat.
2)
Pada Staf
a)
Menyediakan informasi tentang
keahliannya, rujukannya, dan persiapan pendidikannya.
b)
Menyediakan informasi untuk
menugaskan dan mengatur jadwal mengajar.
c)
Menyediakan informasi pada fungsi
sebenarnya yang di tampilkan guru.
d)
Menyediakan informasi tentang profil
guru.
e)
Menyediakan informasi tentang
potensi masing-masing guru yang memungkinkan bisa di kembangkan di masa depan.
3)
Pada Bangunan
a)
Menyediakan informasi lokasi, tipe,
ukuran, kapasitas, struktur sistem, kontruksi, biaya pembangunan dan perawatan.
b)
Menyediakan informasi peralatan
sekolah, umur, biaya dan kegunaan.
c)
Menyediakan informasi kualitas
lingkungan, komunitas dan sebagainya.
4)
Pada Program-program
a)
Menyediakan informasi pada apa yang
diselesaikan oleh, dimana di selesaikannya, oleh siapa? Berapa biayanya? berapa
lama waktu yang di perlukan? apa tujuannya ?
b)
Menyediakan informasi tentang
kurikulum yang tersedia, bagaimana prosedur evaluasi.
c)
Menyediakan informasi tentang efek
dalam setiap proyek belajar mengajar.
d)
Menyediakan informasi yang
membandingkan antara biaya dan keefektifan pada setiap proyek.
5)
Pada Keuangan
a)
Menyediakan informasi tenang
penerimaan dan pengeluaran keuangan.
b)
Menyediakan informasi tentang
pembelanjaan uang.
c)
Menyediakan informasi pembukuan dan
laporan rutin.
d)
Menyediakan informasi tentang biaya
proyeksi.
2. Sistem
Aktivitas Pendidikan
Pendidikan terdiri atas sekumpulan
aktivitas yang merupakan suatu proses dan membentuk suatu sistem, yaitu sistem
aktivitas pendidikan. Sistem aktivitas pendidikan mencakup aktivitas-aktivitas
perencanaan kurikulum, perencanaan sumber daya, strategi program pembelajaran,
interprogramming komunikasi sekolah, pelatihan pelayanan guru dan evaluasi. Hal
ini kemudian di kelompokkan atas tiga kelompok Menurut Alwin Alrasyid, yaitu:
(1) Aktivitas di Tempat
(2) Jadwal yang Tepat
(3) Kurikulum dan Program Intruksi
3.
Sistem Komukasi Pendidikan
1)
Pada informasi itu sendiri
2)
Pada Sistem Fasilitas Pendidikan
3)
Pada Sistem Operasi Pendidikan
4)
Pada Sistem Manajemen
5)
Pada Sistem Pengontrolan Inventaris.
4. Sistem Fasilitas Pendidikan
Sistem
fasilitas pendidikan bertujuan untuk menyediakan lingkungan fisik yang dapat
membantu tercapainya keberhasilan individu dalam proses pembelajaran. Analisis
fasilitas termasuk pada fasilitas pendidikan yang disesuaikan dengan pergerakan
penduduk. Untuk melakukan hal tersebut dapat di lakukan melalui beberapa model
pendekatan seperti yang di kemukakan William yaitu model survei visual yang
memperhatikan dua bagian pendekatan, yaitu :
a)
Mengidentifikasi karakteristik 3
dimensi dari peta kota.
b)
Menentukan signifikansi
5. Sistem Operasional Pendidikan
Sistem operasional pendidikan
mencakup segala sesuatu yang secara tidak langsung di lihat dalam proses
pembelajaran, akan tetepi cukup membantu dan mendukung fasilitas pembelajaran
diantaranya pelayanan perpustakaan, penyediaan buku-buku paket, konseling dan
bimbingan siswa, pelayanan kesehatan dan lain-lain.
B. KEUNTUNGAN MEMAKAI PENDEKATAN SISTEM
Keuntungan
memakai Pendekatan Sistem, menurut Tim Depdiknas (1982 / 83:22) adalah sebagai
berikut.
1)
Misi, sasaran, dan tujuan dapat
dijabarkan lebih luas;
2)
Setiap program selalu dikaitkan
dengan sasaran dan tujuan;
3)
Orientasi kegiatan selalu diorientasikan
kepada hasil akhir;
4)
Perencanaan dipandang sebagai bagian
dari keseluruhan kegiatan pendidikan;
5)
SDM dan SDdana digunakan lebih
efektif sesuai alokasi kontribusinya pada pencapaian tujuan;
6)
Informasi untuk perencanaan dan
pengambil an keputusan dapat dirancang dan dikelola secara terpadu, sehingga
sasaran serta cara-cara pencapaiannya dapat lebih efektif dan efisien;
7)
Semua upaya diarahkan pada sasaran,
sehing ga pemborosan dapat ditekan seminimal mungkin.
8)
Administrator dapat dinilai lebih
objektif lantaran sasaran pekerjaan lebih jelas;
9)
Administrator dapat mengembangkan
kreativitas dalam batas-batas kewenangan yang telah ditetapkan, sepanjang
mereka tetap berorientasi pada tujuan akhir.
10) Pertanggungan
jawab dapat dirumuskan secara lebih jelas dan opersional.
11) Umpan balik
dapat diperoleh pada semua tingkat otoritas dalam organisasi pendidikan,
sehingga penyimpangan dalam yusaha pencapaian tujuan dapat cepat
diidentifikasi;
12) Komunikasi
antar komponen dapat dibina dengan lebih baik sehingga kesalahpahaman dapat
dikurangi;
13) Pendelegasian
wewenang dan tanggung jawab dapat dilaksanakan secara lebih baik. Secara lebih
rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam sistem atau pendekatan sistem, adalah:
1.
Adanya tujuan: Setiap rakitan sistem
pasti bertujuan, tujuan sistem telah ditentu¬kan lebih dahulu, dan itu menjadi
tolok ukur pemilihan kompo¬nen serta kegiatan dalam proses kerja sistem. Komponen,
fungsi komponen, dan tahap kerja yang ada dalam suatu sistem meng¬arah ke
pencapaian tujuan sistem. Tujuan sistem adalah pusat orientasi dalam suatu
sistem.
2.
Adanya komponen sistem (selain
tujuan):
Jika suatu sistem itu adalah sebuah mesin, maka setiap bagian (onderdil) adalah
komponen dari mesin (sistemnya); demikian pula halnya dengan pengajaran di
sekolah sebagai sistem, maka semua unsur yang tercakup di dalamnya (baik
manusia maupun non manusia) dan kegiatan-kegiatan lain yang terj adi di dalamnya
adalah merupakan komponen sistem. Jadi setiap sistem pasti memiliki
komponen-komponen sistem.
3.
Adanya fungsi yang menjamin dinamika
(gerak) dan kesatuan kerja sistem: Tubuh kita merupakan suatu sistem, setiap
organ (bagian) dalam tubuh tersebut mengemban fungsi tertentu, yang
keseluruhan¬nya (semua fungsi komponen sistem) dikoordinasikan secara kompak,
agar diri kita dan kehidupan kita sebagai manusia berjalan secara sehat dan
semestinya.
4. Adanya
interaksi antar komponen: Antar komponen dalam suatu sistem terdapat saling
hubungan, saling mempengaruhi, dan saling ketergantungan.
C. JENIS-JENIS SISTEM
Menurut Bertalanffy
(1968) Sistem
terdiri atas dua jenis, yakni sistem terbuka dan sistem tertutup.
Masing-masing memiliki karakristik sendiri
1.
Karakteristik Sistem Terbuka yakni :
a)
Bersifat sinergis dengan lingkungan.
b)
Feedback, perbaikan terus menerus
berdasar hasil balikan dari seluruh rangkaian kegiatan sistem.
c)
Cyclical, hal ini sebagai kelanjutan
dari kegiatan korektif. Sistem bersifat mengulangi kegiatan sebelumnya atau
repetitive.
d)
Creative, pendektan system bersifat
kreatif "the system approach must be creative one that focuses on goal first
and methods second"
e)
Negontropy. Sistem yang terbuka
memiliki kekuatan penghalang dari kehancuran atau kemusnahan, manakala dipenuhi
karakter dua di atas yakni kreatif dan repetitive. Dengan dua karakjter
tersebut akan terjadi pertahanan dari dalam diri system (self defence).
f)
Steady state, yakni kemapanan,
keajegan, keseimbangan internal saat terjadi dinamika input-output.
g)
Growth and expancy, yakni tumbuh dan
semakin meluas, sebagai akibat lanjutan (nurturant effect) dari karakter sistem
yang kreatif dan negontrophic.
h)
Balance between maintenance
(beli, pelihara, rekrutmen dst.nya untuk bertahan hidup) and adaptive
activities (perencanaan dan pengembangan, yang menghitung reali tas lapangan
secara jeli dan teliti supaya sistem tetap berta han hidup).
i)
Equifinality. Dalam pendekatan
sistem, terdapat kesamaan nilai dari ujung proses suatu kegiatan. Input
dapat memiliki keragaman kualitas, namun karena diproses dengan perlakuan
dan persyaratan yang sama, maka jenis dan kualitas outputpun, relative dalam
level kualitas yang sama. (indicate to dynamic homeostatis, or the steady
state).
2.
Karakteristik Sistem Tertutup, yakni
:
Karakteristik Sistem tertutup sama
sekali tidak berhubungan dengan sistem yang lain, memiliki batasan yang
jelas yang terpisah dari lingkungan tempat sistem berada (it does not have such
interactions with environment).Dalam jangka waktu lama dan berkelanjutan,
sesungguhnya system yang tertutup seperti mesin-pun tetap dipengaruhi oleh
keadaan lingkungannya.
D. KEPENTINGAN PENDEKATAN SISTEM
Dengan melihat berbagai
karakteristik sistem, baik yang terbuka maupun yang tertutup, kita dapat
melihat beberapa keuntungan membuat perencanaan dengan pendekatan system
sebagai berikut.
1)
Pendekatan sistem
mengkonseptualisasi organisasi sebagai satu kesatuan, tidak terpisah-pisah, dan
karenanya tidak dilihat dari bagian-bagiannya, maka Setiap bagian atau anggota bersikap
sebagai suatu kesatuan;
2)
Terampil mengidentifikasi dan
memahami lingkungan; kemudian diidentifikasi keterkaitannya kepada sistem yang
dikelola;
3)
Memahami pentingnya stabilitas dan
atau perubahan dari organisasinya;
4)
Merekayasa alternatif masukan dan
proses kegiatan.
Harvey, LJ menegaskan kepentingan pendekatan sistem dalam membuat perencanaan
dalam pendidikan sebagai berikut.
1)
Lembaga-lembaga pendidikan telah
semakin kompleks dan semakin sulit untuk dikelola dengan cara-cara tradisional
yang kurang berorientasi pada tujuan, untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai
dengan tuntutan perkem bangan pendidikan.
2)
Perubahan semakin cepat sementara
seorang administrator tidak mungkin menangani segala bidang. Karena itu perlu
pendekatan baru.
3)
Kebanyakan perencana pendidikan
bersifat amatir. Mereka disiapkan untuk jadi guru atau petugas pendidikan
lainnya. Dalam keadaan demikian pendekatan system sangat diperlukan.
4)
Diperlukan penggunaan dana yang
efisien dan efektif dalam menanggulangi kesalahan perencanaan dan pengelolaan
pendidikan. Karena itu pendekatan system sangat diperlukan.
5)
Kepercayaan masyarakat terhadap
organisasi pendidikan perlu ditingkatkan, melalui efisiensi dan efekyivitas
kerja system pendidikan yang terencana.
Dengan melihat berbagai karakter
system juga, kita dapat membuat catatan lain yakni bahwa bahwa system bukan
segala-galanya. Keterkaitan dan ketergantungan antar unsure adalah satu hal,
tapi keinginan perubahan yang drastis untuk membuat loncatan-loncatan baru
adalah hal lain yang justru akan merubah konstruk dan konsep suatu organisasi
yang sudah disistemkan.
Sejalan dengan keterangan tentang sistem tersebut serta menyadari liputan
kerja dalam kegiatan perencanaan yang cukup luas, maka pekerjaan
perencanaan dengan pendekatan sistem akan jadi terdukung untuk menurunkan
rincian kegiatan lainnya. Bentuk kegiatannya berawal dari mengidentifikasi
kebutuhan, menyeleksi permasalah an, mengidentifikasi barang/ bahan/syarat
pemecah an masalah, menginventarisasi berbagai kemungkinan pemecahan masalah,
cara-cara melaksanakan kegiatan, menilai hasil kegiatan rancangan secara terus
menerus, dan kesiapan untuk terus merevisi kebijakan yang salah, sehingga hasil
akhir betul-betul dapat meminimalisasi kerugian yang mungkin ditimbulkan.
Tentu saja faktor waktu harus
betul-betul dipertimbangkan. Jangan sampai terjadi, saking hati-hatinya
mengidentifikasi, menyeleksi, merevisi, dan menilai hasil sementara, lantas
keputusan atau kebijakan membuat perencanaan malah tidak pernah selesai.
Dalam dunia pendidikan Islam, pendekatan sistem dalam perencanaan ini
berarti proses kegiatan memecahkan permasalahan pendidikan ummat secara
rational logis, dengan mengidentifikasi dan memecahkan kembali permasalahan
penting pendidikan. Semuanya diorientasikan pada sasaran atau tujuan yang akan
dijangkau. Intinya terletak pada bagaimana membuat cara /alat/konsep berpikir
yang mampu memecahkan masalah pendidikan ummat Islam secara sistimatik dan
objektif. Segera harus diberi catatan, bahwa cara/alat/konsep berpikir tersebut
akan sangat bervariasi, terkait dengan tingkat jangkauan pekerjaannya.
Jangkauan dalam bentuk sasaran kegiatan (purpose) berbeda dengan
jangkauan tujuan akhir kegiatan (objective) dan tentu berbeda pula dengan
tujuan komprehensif kegiatan yang dicapai melalui perencanaan strategi.
BAB III REVIEW
3.1 PENDEKATAN SISTEM DALAM
TEKNOLOGI PENDIDIKAN DAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Dalam teknologi pendidikan dan
sistem instruksional khususnya dalam upaya pemecahan masalah pembelajaran
sebaiknya digunakan pendekatan sistem. Implikasi dari pendekatan sistem
dimaksud adalah adanya pengembangan model-model Sistem Instruksional. Pemecahan
yang dilandasi oleh Teknologi Pendidikan selalu dilandasi dengan penerapan
prinsip pendekatan sistem artinya masalah-masalah yang dipandang sebagai suatu
sistem atau dalam kaitan suatu sistem sehingga penanganan terhadap satu
komponen harus mempertimbangkan komponen-komponen lainnya secara integratif.
3.2
PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN
PENILAIAN PRESTASI DOSEN BERDASARKAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
Pendidikan tinggi di Indonesia merupakan
subsistem pendidikan nasional yang berkewajiban menyelenggarakan pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu unsur dalam
penyelenggaraan pendidikan tinggi adalah dosen. Dosen merupakan tenaga akademik
yang bertugas melaksanakan tridarma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan
dan pengajaran, penelitian dan pengembangan ipteks dan pengabdian pada
masyarakat serta kegiatan penunjang.
Pada dasarnya ketiga tugas tersebut wajib dilaksanakan secara terpadu oleh dosen. Dalam penelitian ini dirancang sebuah Sistem Pendukung Keputusan untuk menilai prestasi dosen berdasarkan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dalam proses penentuan prestasi dosen digunakan beberapa kriteria yaitu penelitian, pemakalah, penulis jurnal dan pengabdian pada masyarakat.
BAB
IV
PEMBAHASAN
DAN PERMASALAHAN
4.1 model pembelajaran Number Head Together
Berdasarkan
hasil penelitian bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarakan dengan
menggunakan metode belajar NHT lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang
dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran induvidual. Hasil penelitian
ini pula menyatakan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan model
pembelajaran dan tipe kepribadian terhadap hasil belajar. Secara praktis
penelitian ini memberikan implikasi bukan hanya siswa tetapi juga bagi guru.
Bahkan mungkin implikasi hasil penelitian ini tidak hanya terbatas bagi satu
pelajaran tetapi mungkin juga untuk pelajaran yang lain.
Beberapa
temuan peneliatian tersebut akan berimplikasi pada hal-hal sebagai berikut :
1. Pemilihan
model pembelajaran yang tepat bagi pelajaran.
2. Interksi
model pembelajaran dengan tipe kepribadian terhadap hasil belajar.
3. Pemilihan
model pembelajaran NHT bagi siswa tipe kepribadian ektrofret.
4. Pemilihan
metode pembelajaran NHT bagi siswa tipe kepribadian in- ektrofret.
Dalam
menerapkan model pembelajaran koperatif (NHT) guru minimal harus memiliki
sarat-sarat sebagai berikut :
1. Kreatif
dan mau terus belajar.
2. Mampu
mengolah waktu.
3. Mampu
mendorong para siswa untuk bekerja sama.
4.
Mampu meningkatkan
kecakapan sosial pada siswa.
4.2 SISTEM
PENDIDIKAN DI INDONESI DAN FINLANDIA
Pendidikan di Indonesia menggunakan sistem akreditasi yang diberikan oleh pihak pemerintah, padahal di Finlandia yang dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan unggulan yang diakui di seluruh dunia, akreditasi sekolah terseut justru di dapatkan dari warga masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, jika sekolah tersebut mampu melahirkan anak yang semakin cerdas dan baik, maka akreditasi yang diberikan masyarakat pun akan bertambah baik pula, dan begitu pun sebaliknya.
a. a. Kurikulum
Melihat kembali pada sistem pendidikan di Finlandia yang mana kurikulum dikemas sesuai dengan kelebihan atau pun keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing dari daerah yang dimilikinya, sehingga hal ini lebih mampu menonjolkan sisi kelebihan sekolah yang tersebut, Berbeda halnya dengan sistem pendidikan di Indonesia yang mana kurikulum tersebut justru di tetapkan oleh pihak pemerintah secara serentak dan kemudian dijadikan sebagai hal yang wajib untuk ditaati.
b. B. Ujian
Indonesia
dikenal dengan ujian nasional yang tentunya wajib untuk dilakukan secara
serentak, sedangkan di Finlandia, ujian nasional itu sendiri tidak ada, dan
ujian justru dibuat atau disesuaikan dengan hasil dari proses pembelajaran yang
telah diberikan pada anak didiknya masing-masing.
c. Standar nilai
Pendidikan di Indonesia menerapkan standar nilai dengan ketentuan nilai minimum tertentu, sementara di Finlandia, standar nilai tersebut justru tidak ada, karena hal ini berkaitan dengan kemampuan anak yang berbeda antara satu dengan lainnya. Lebih dari itu Finlandia justru lebih mengembangkan standar untuk bidang etika dan moral yang tentunya menjadi pondasi kuat untuk melahirkan bangsa yang kuat serta cerdas dan santun.
BAB V
PENUTUP
5.1
KESIMPULAN
sistem
adalah transaksi dari suatu urutan logis dari operasi untuk tujuan mengubah
satu atau lebih faktor dalam suatu sistem, Tentu saja
faktor waktu harus betul-betul dipertimbangkan. Jangan sampai terjadi, saking
hati-hatinya mengidentifikasi, menyeleksi, merevisi, dan menilai hasil
sementara, lantas keputusan atau kebijakan membuat perencanaan malah tidak
pernah selesai.
Dalam dunia pendidikan, pendekatan sistem dalam perencanaan ini
berarti proses kegiatan memecahkan permasalahan pendidikan ummat secara
rational logis, dengan mengidentifikasi dan memecahkan kembali permasalahan
penting pendidikan. Semuanya diorientasikan pada sasaran atau tujuan yang akan
dijangkau.
DAFTAR PUSTAKA
Dinn, W.
(2008). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas terbuka.
Maidyos Uga Yanda (2015) “pengaruh model eksperimen dan kemandirian belajar terhadap hasil
belajar ilmu pengetahuan alam (IPA).”TESIS UIA”.
Mardi.
(2011). Sistem Informasi Akuntansi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Miarso, Y. (2011). Menyemai Benih
Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mulyadi.
(1993). sistem Akuntansi. Yogyakarta: STIE ( sekolah Tinggi penerbiatan
sekolah tinggi ilmi Ekonomi YKPN).
Nur’aliyah (2014), “Pengaruh penerapan model pembelajaran number
hade thogether dan tipe kepriabadian siswa terhadap hasil belajar pendidikan
agama islam” TESIS UIA”.
Pidarta, M.
(2009). Landasan Kependidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Tirtarahardja,
P. D. (2003). pengantar pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.